Panduan untuk menyiapkan dan menyajikan susu formula

Cara membersihkan dan sterilisasi peralatan

1. Cuci tangan dengan sabun sebelum membersihkan dan mensterilkan peralatan minum bayi.
2. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol dan sikat dot) dengan air bersih yang mengalir.
3. Gunakan sikat botol dan sikat dot untuk membersihkan bagian dalam botol dan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.
4. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir.
5. Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan.
6. Bila sterilisasi dengan cara direbus :
a. Botol harus terendam seluruhnya sehngga tidak ada udara di dalam botol;
b. Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5 - 10 menit;
c. Panci biarkan tertutup, biarkan botol dan dot di dalamnya sampai segera akan digunakan
7. Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot.
8. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus:
a. Botol harus disimpan di tempat yang bersih dan tertutup;
b. Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.

Cara menyiapkan dan menyajikan susu formula

1. Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula.
2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan.
3. Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
4. Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci/ketel tertutup selama 10 - 15 menit agar suhunya turun menjadi di atas 70oC.
5. Tuangkan air tersebut (suhunya di atas 70oC) sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
6. Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi. 7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
8. Dinginkan segera dengan merendam bagian bawah botol susu di dalam air bersih dingin, sampai suhunya sesuai untuk diminum (dicoba dengan meneteskan susu pada pergelangan tangan, akan terasa agak hangat, tidak panas).
9. Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.


Sumber: www.pom.go.id

Kurang Tidur dan Obesitas

Pernahkah anda mendengar orang yang mengatakan kepada anda bahwa terlalu banyak tidur bisa membuat anda gemuk? mungkin sepanjang hidup anda, anda sering mendengar kalimat tersebut dan anda setuju dengan hal tersebut. Namun pernahkah anda berpikir bahwa, waktu tidur yang sedikit juga dapat mengakibatkan anda gemuk (obesitas)? Woow...jika anda terkejut, maka anda tidak sendirian.

Penelitian selama tahun 2001-2003 pada 3500 orang dewasa di Spanyol membuktikan bahwa orang dewasa yang tidur kurang dari 5 jam sehari mempunyai kecenderungan untuk bertambah gemuk (obesitas; BMI >30) dibandingkan dengan orang yang cukup tidurnya (7 jam sehari). Bahkan resiko anda untuk menjadi gemuk dengan tidur <5>35) juga lebih besar. Pada severe obesity, resiko terkena berbagai jenis penyakit degeneratif dan penyakit lainnya cukup tinggi.

Jika anda wanita dewasa dan waktu tidur anda <>5kg dibandingkan dengan wanita dewasa yang tidurnya cukup (7 jam sehari).

Jadi, mulai sekarang istirahatlah yang cukup, tidur 7 jam sehari, jangan kurang jangan lebih.

Sumber: http://www.ajcn.org/cgi/content/abstract/87/2/310

Faddy Eating

Pernahkah anak anda hanya ingin memakan makanan tertentu saja, dan makanan yang ia inginkan merupakan makanan yang memang sedang populer? Jika ya, maka itu dinamakan faddy eating. Hal ini wajar, karena pada dasarnya anak bersifat meniru dan mencontoh lingkungan sekitarnya. Iklan makanan fast food dan trend makanan cepat saji di televisi yang cukup menarik, membuat anak kita ingin menyantap makanan tersebut berulang-ulang.

Kadang kita sebagai orang tua khawatir, karena pada faddy eating anak hanya mau mengkonsumsi makanan tertentu saja. Hal ini tidaklah perlu terlalu dicemaskan. Pada suatu saat anak pasti akan bosan jika beberapa lama tidak mendapatkan aneka ragam menu. Yang penting ketika tengah menyukai makanan tertentu, imbangi dengan kelengkapan gizi dari sumber lain. Janganlah bosan memberikan alternative lain, biarpun dia hanya mau menu tertentu.

Satu hal perlu dicamkan, penolakan tak selamanya berarti dia tidak akan mau memakan suatu makanan. Sebaiknya makanan yang sama dicoba disajikan dengan penampilan yang berbeda. Sayuran yang ditolak bisa disajikan secara lain dengan mencampurkannya pada sumber protein, misalnya ayam isi sayuran, nugget isi sayuran dan lain-lain. Jika suatu waktu anak menolak daging, cari alasannya. Yang Mungkin karena rasanya, atau karena ada seratnya. Meskipun bisa diganti dengan ayam, ikan, telur dan lain sebagainya, perlu dipertimbangkan bahwa selain seumber protein, daging juga mengandung zat besi, vitamin B dan lain-lain. Bagaimanapun daging tetap harus diberikan.

Strategi menanggulangi anak yang menolak makanan:

  • Batasi makanan selingan yang mengandung kalori kosong. Sebagai selingan, berikan buah atau makanan lain yang gizinya lengkap
  • Kalau anak menolak sayuran, berikan dalam bentuk blender dicampur dengan lauk atau jajanan (selingan)
  • Belilah makanan yang memang disenangi anak
  • Sangat penting untuk memperkenalkan aneka makanan yang bisa diterima sesuai usianya sejak dini
  • Makanan baru bisa diberikan sambil bermain sampai anak mengenal dan mau memakannya
  • Usahakan penampilan makanan sesuai imajinasinya. Bentuk tampilan yang lucu bisa menggugah selera
  • Waktu makan adalah kesempatan untuk mensosialisasikan kepada anak, manfaatkan sebaik mungkin untuk berdialog. Lakukan dengan kasih saying dan jangan sampai anak merasa adanya paksaan untuk melakukan hal yang tidak disenanginya. Usahakan waktu makan tidak terganggu oleh kegiatan lain misalnya menonton televisi
  • Mengundang atau mengajak makan anak seumuran sangat baik karena anak bisa meniru temannya
  • Untuk membuat anak menyukai buah hindari atau batasi makanan yang mengandung gula karena rasa manis sangat disenangi
  • Jika berat badan kurang, anak membutuhkan makanan berkalori lebih tinggi guna mengejar kekurangannya. Berikan susu full cream dan produk olahannya seperti keju, milkshake, es krim dan hindari produk low fat. Perlu diingat kebanyakan susu dan minuman manis membuat anak kenyang sehingga makananan utamanya tidak terkonsumsi
  • Memberikan porsi besar pada piringnya membuat anak tidak bernafsu makan. Berikan porsi secukupnya dan menarik. Tambahan porsi boleh diberikan jika anak memang masih menghendaki
  • Jangan terus menerus memberikan menu masakan yang sama, variasikan bahan dan rasanya. Menu yang sama akan membuat anak bosan. Dampak lain anak tidak cepat mengenal menu lain.

Tips Membeli dan Menyimpan Telur

Bila kita membeli telur di pedagang yang ramai, jarang sekali kita mendapatkan telur lama ataupun rusak, karena stoknya cepat habis dan diganti yang baru. berbeda bila kita membeli dari pedagang yang relatif sepi, kita harus berhati-hati memilih telur. Berikut ini beberapa cara memilih dan menyimpan telur yang bisa kita jadikan pedoman.

Telur segar mempunyai kekentalan yang baik, sehingga kuning telur terletak di tengah. Makin lama larutan didalamnya, makin encer sehingga kuning telur bergeser ke tepi. selain itu kantung udara di bagian ujung membuat telur relatif kecil daripada telur segar, diameternya sekitar 1,5 cm.Kantong udara itu makin lama juga akan membesar. berdasarkan sifat itu, saat memilih telur segar kita bisa menggunakan cara:

  1. Telur diletakkan didepan cahaya dan diteropong isinya sambil berputar-putar. Apabila kuning telur bergeser, telur sudah kurang segar. Apabila kuning telur sudah pecah dan bercampur berarti telur sudah rusak
  2. Telur direndam dalam air tawar atau larutan garam 10% (1 sendok teh garam dalam 2 gelas air). Bila telur tenggelam, menandakan masih segar. Bila sedikit terapung, berarti kantong udara di ujung telur membesar menandakan telur sudah lama. Bila telur melayang dalam larutan, berarti telur sudah rusak
  3. Pengamatan kulit luar. Telur yang masih segar berwarna kulit cerah. Telur yang sudah lama biasanya mempunyai warna kulit kusam/keruh, juga mulai timbul bintik-bintik hitam yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur
Jika telur yang kita beli langsung kita gunakan maka penyimpanan telur tidaklah menjadi masalah. Lain halnya jika telur yang kita beli dalam jumlah banyak dan akan dipakai dalam kurun waktu yang cukup lama. Untuk itu perlu diperhatikan metode penyimpanannya agar telur-telur tersebut masih dalam keadaan baik sewaktu kita akan mempergunakannya.
  1. Sebelum disimpan, telur perlu dicuci dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang biasanya berada dari kandang. sebaiknya telur direndam dahulu, supaya kotoran mudah lepas. Pencucian/penggosokan yang berlebihan mengakibatkan kulit telur menipis dan mudah pecah. Selain itu, juga menyebabkan pelebaran pori-pori telur, sehingga bakteri mudah masuk dan merusak telur.
  2. Setelah dicuci, sebaiknya telur dicelupkan kedalam minyak parafin cair (suhu 60 derajat celcius). Kemudian diangin-anginkan sehingga terbentuk lapisan tipis yang bisa menutupi pori-pori kulit telur dan terhindar daris erangan bakteri.
  3. Atau bisa juga dengan cara telur dicelupkan kedalam air mendidih sebentar saja (sekitar 5 detik). cara ini membentuk lapisan tipis sekeliling kulit telur bagian dalam akibat satu lapisan tipis putih telur terkoagulasi. Lapisan itu juga berfungsi menutup pori-pori kulit telur.
  4. Selanjutnya, telur siap disimpan dalam lemari pendingin.
Sumber: Seri Iptek Pangan Volume 1: Teknologi, Produk, Nutrisi & Keamanan Pangan, Jurusan Teknologi Pangan-Unika Soegijapranata- Semarang

Daftar Sentra Laktasi Indonesia

Buat teman-teman pembaca yang ingin melahirkan atau istrinya akan melahirkan, silahkan pilih rumah sakit yang sudah mendukung Inisiasi Dini dan ASI Eksklusif.

DAFTARNYA DIBAWAH INI:
Jakarta
  • PK. St. Carolus
    Jl. Salemba Raya No. 41 Jakarta 10440 Telp. (390) 4441 pes. 7257
  • RS Husada
    Jl. Raya Mangga Besar No. 137-139 Jakarta Barat Telp. (021) 626 0108
  • RSAB Harapan Kita
    Jl. S. Parman Kav. 87 Jakarta Barat Telp. (021) 566 8284 pes. 1205
  • RS Pondok Indah
    Jl. Metro Duta Kav. VE Jakarta Selatan Telp. (021) 765 7525
  • RS OMC
    Jl. Pulomas Barat VI No. 20 Jakarta Timur Telp. (021) 472 3332
  • RS Pertamina Jaya
    Jl. Achmad Yani No.2 By Pass Jakarta Pusat Telp. (021) 421 1911 ext.
    4254
  • RSAL Mintoharjo
    Jl. Bendungan Hilir Raya Jakarta Pusat Telp. (021) 574 9037/574 9038
  • RS Bunda Jakarta
    Jl. Teuku Cik Ditiro Jakarta Pusat Telp. (021) 3192 4917
  • RS Medistra
    Jl. Gatot Subroto Kav. 59 Jakarta Selatan Telp. (021) 527 7382 ext.
    217-222
Bekasi
RSIA Hermina Bekasi
Jl. Kemakmuran No. 39 Margajaya, Bekasi Telp. (021) 884 2121

Depok

RSIA Hermina Depok
Jl. Raya Siliwangi No. 50 Pancoran Mas, Depok Telp. (021) 7720 2525

Bogor
  • RS PMI Bogor
    Jl. Pajajaran 80 Bogor Telp. (0251) 324080
  • RS Azra Bogor
    Jl. Pajajaran No. 129 Bogor Telp. (0251) 318456
Bali
RSB Puri Bunda
Jl. Gatot Subroto VI/19 Denpasar, Bali Telp. (0361) 437999 Fax. (0361)
433988

Makassar
Poltekkes Makassar (Aswita Amir, Siti Mardiah, SKM) Jurusan Gizi
Jalan Paccerakkane KM 14 Daya Makassar Telp./Fax. (0411) 510197

Batam
RS AWAL BROS BATAM
Jl. Gajah Mada Kav. I Baloi, Batam Telp. (0778) 431777

Riau
  • RS Awal Bros Pekanbaru
    Jl. Jendral Sudirman No.117 Tangkerang Pekanbaru, Riau 28282 Telp.
    (0761)
    47333 ext. 2300
  • RS PT Caltex Pacific Indonesia
    Pekanbaru Riau Telp. (0761) 594297
Banten
  • RS Misi Rangkasbitung
    Jl. Multatuli No. 41 Rangkasbitung Lebak, Banten
    42311 Telp. (0252) 201014
  • RS International Bintaro
    Jl. MH Thamrin No.1 Sektor 7 Bintaro Jaya
    Tangerang, Banten Telp. (021) 745 5500
  • RS. Siloam Gleneagles
    Jl. Siloam No. 6 Lippo Karawaci Tangerang,
    Banten

    Telp. (021) 546 0055 pes. 7151
Surakarta
Yayasan Kakak (Fajar Yulianta/Sofie)
Jl. Slamet Riyadi No. 534 B Telp. (0271) 711453


Yogyakarta
RS Panti Rapih
Jl. Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223 Telp. (0274) 514845 pes. 227

Surabaya
RS Mitra Keluarga Surabaya
Jl. Satelit Indah II Darmo Satelit Surabaya 60187 Telp. (031) 734 5333

Semarang
RS St. Elisabeth
Jl. Kawi No.1 Telp. (024) 831 0076 pes. 7405

Kaltim
RS Pupuk Kaltim
Jl. Oxygen, Bontang Kalimantan Timur 75313 Telp. (0548) 41118 pes. 237

Minum Karnitin Tubuh Atletis?

Oleh: Sulistyo Prabowo

Seorang pria gemuk berdiri di pinggir jalan. Setiap wanita yang melintas di depannya tampak begitu terpesona sehingga si pria semakin gede rasa. Akan tetapi, ketika dia menoleh ke belakang, tampak seorang pria ganteng berdiri tanpa mengenakan baju, memperlihatkan postur tegap dan otot yang membentuk tubuh ideal dan atletis.

Anda yang gemar nonton televisi pasti sangat kenal dengan spot iklan sebuah produk susu tersebut. Postur tubuh seperti itu menjadi idaman bagi kaum Adam dan mungkin menjadi daya tarik bagi kaum Hawa, seperti yang dimaksud dalam iklan tersebut.

Jika produk susu yang banyak diiklankan selama ini adalah susu formula untuk bayi dan manula, maka produk yang satu ini dimaksudkan bagi segmen pasar orang dewasa. Dalam produk tersebut dikatakan, karena mengandung L-karnitin (L-Carnitine) dan protein tinggi, maka dapat membantu membentuk tubuh lebih atletis. Tetapi, benarkah klaim tersebut?

Karnitin, koenzim vital dalam jaringan tubuh hewan dan berperan dalam metabolisme lemak, merupakan substansi seperti vitamin yang banyak mendapatkan perhatian dewasa ini. Senyawa ini mirip dengan vitamin, dengan pengecualian bahwa pada kondisi normal, hewan tingkat tinggi menyintesa sendiri kebutuhan totalnya. Karena itu, tidak perlu menambahkan karnitin dalam makanan sehari-hari. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sintesis karnitin badan kemungkinan tidak mencukupi untuk beberapa individu. Selain itu, sejumlah penyakit dapat meningkatkan level karnitin dalam cairan tubuh dan jaringan. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan: (1) apakah sintesis oleh tubuh mencukupi kebutuhan karnitin untuk dapat menjaga kesehatan dan (2) apa peranan, jika ada, karnitin dalam beberapa penyakit?

Karnitin pertama kali diisolasi dari ekstrak daging pada tahun 1905, tetapi strukturnya belum ditemukan sampai tahun 1927. Lalu, 20 tahun kemudian, saat Fraenkel (1947) meneliti peranan asam folat dalam makanan serangga menemukan bahwa ulat (Tenebrio molitor) memerlukan faktor pertumbuhan yang ada dalam ragi. Fraenkel menamakan faktor tersebut dengan vitamin BT. Vitamin B karena mempunyai sifat larut dalam air dan T dari Tenebrio. Karena tidak dikenal sebagai vitamin, kemudian namanya diubah menjadi karnitin.

Metabolisme

Karnitin disintesis dalam hati. Pada tikus, kandungan tertinggi ditemukan pada kelenjar adrenalin, jantung, otot rangka, jaringan adiposa, dan hati. Sedikit terkandung dalam ginjal dan otak. Pada manusia, kandungan karnitin otot rangka 40 kali lebih banyak dari yang ada dalam darah. Seperti vitamin yang larut dalam air, dipercaya bahwa karnitin lebih mudah dan dapat terserap seluruhnya.

Karnitin memainkan peranan panting dalam metabolisme lemak dan produksi energi pada mamalia. Fungsi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemindahan dan pembakaran asam lemak. Karnitin memfasilitasi pemindahan melalui membran mitokondria. Karnitin merupakan bagian dari mekanisme pembawa di mana asam lemak rantai panjang dibuat menjadi turunan asil karnitin dan dibawa melalui membran mitokondria. Membran mitokondria sendiri tidak dapat dilalui oleh asam lemak rantai panjang sendirian atau oleh ester koenzim A-nya. Begitu melalui membran mitokondria, asil karnitin diubah menjadi bentuk koenzim A asam lemak dan dalam kondisi beta-oksidasi melepaskan energi.

2. Sintesis lemak. Meskipun peranan ini masih kontroversial, karnitin tampaknya terlibat dalam pemindahan kelompok asetil kembali ke sitoplasma untuk sintesis asam lemak.

3. Pemanfaatan badan keton. Karnitin memacu oksidasi asetoaseton sehingga berperan dalam pemanfaatan badan keton.

Dewasa ini penekanan utama dalam penelitian adalah peranan karnitin dalam oksidasi asam lemak. Metabolisme karnitin dipelajari terutama dalam kondisi di mana ada perubahan katabolisme lemak dengan perubahan kondisi fisiologi (puasa, latihan, luka bakar, kehamilan, adaptasi dingin) atau kondisi ada penyakit (hipertiroid, hipotiroid, diabetes, aterosklerosis, dan sebagainya).

Kebutuhan

Jika karnitin merupakan zat gizi esensial, dapat dipastikan bahwa kekurangan dalam diet menyebabkan gejala penyakit yang masih dapat diatasi. Dalam kondisi normal tidak ada kebutuhan khusus untuk karnitin. Namun, jika metabolisme tidak normal dan dapat menghambat sintesis, gangguan dalam penggunaan atau meningkatnya katabolisme karnitin dapat diikuti oleh gejala sakit, maka terkadang diperlukan adanya suplemen dari makanan.

Seperti telah dikemukakan di muka, karnitin banyak terkandung dalam pangan hewani dan rendah dalam nabati. Kandungan yang tinggi ada dalam daging, hati, jantung, ragi, ayam, kelinci, susu, dan whey. Sumber yang bagus adalah avokad, kasein, dan kecambah gandum, sementara yang kurang bagus ada dalam kubis, kacang, dan gandum.

Rendahnya kandungan karnitin dalam bahan nabati dikarenakan bahan tersebut biasanya kurang mengandung asam amino esensial lisin dan metionin. Karena itu, diet vegetarian cenderung rendah karnitin. Meski belum diketahui secara pasti, sangat mungkin karnitin disintesis dalam tubuh dari lisin dan metionin. Masih perlu penelitian lebih lanjut terhadap peranan karnitin dalam kesehatan manusia.

Jika karnitin tidak diperlukan dalam suplementasi makanan, seharusnya klaim iklan tadi lebih menekankan pada tingginya kandungan protein, bukan pada adanya L-karnitin. Protein memang dikenal sebagai zat pembangun dalam tubuh. Jadi, jika Anda ingin mempunyai bentuk tubuh yang lebih atletis, konsumsilah asupan tinggi protein, bukan tinggi karnitin!

Sumber: artikel ini disadur ulang dari tulisan yang pernah dimuat di kompas tahun 2004
http://kompas.com/kompas-cetak/0404/28/ilpeng/994046.htm

Apakah Kegemukan Menular?

Oleh: Dr Diana Elizabeth Waturangi MSi

Pengajar pada Fakultas Teknobiologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta

SAAT ini banyak cara ditawarkan untuk melangsingkan tubuh, mulai dari jamu gendong, program pelangsingan tubuh, sampai sedot lemak. Hal ini menunjukkan betapa kegemukan telah menjadi suatu masalah bagi masyarakat. Namun, ternyata banyak yang tidak berhasil karena kegemukan bukan suatu masalah yang sederhana.

Pada umumnya setiap orang mendambakan berat badan yang ideal, apalagi wanita. Namun, tidak sedikit juga yang memiliki masalah dengan kegemukan, bahkan sampai obesitas. Obesitas merupakan masalah yang mendunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Angka obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menyebutkan, di dunia lebih dari 300 juta orang dewasa menderita obesitas. Bahkan, di Amerika Serikat, sebanyak 280.000 orang meninggal setiap tahunnya karena obesitas.

Di Jakarta diperkirakan 10 dari 100 penduduk menderita obesitas. Biasanya kondisi ini menjadi pemicu penyakit-penyakit seperti jantung, artritis, diabetes tipe 2, serta tekanan darah tinggi.

Orang-orang yang punya masalah dengan obesitas cenderung disalahkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak memiliki semangat yang kuat untuk menurunkan berat badan (lack of will power). Selama ini faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab obesitas, antara lain, pola makan, kurang olahraga, kelainan metabolisme, serta faktor genetika.

Faktor genetika

Sejak hormon leptin ditemukan sepuluh tahun lalu, yaitu hormon pengontrol nafsu makan serta pengatur proses pembakaran lemak dalam tubuh, penelitian tentang gen-gen yang berperan dalam obesitas berkembang dengan pesat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan jumlah restoran-restoran "all you can eat" yang sekarang marak di mana-mana.

Paling tidak, sudah dua gen yang diteliti berasosiasi dengan obesitas, yaitu gen ob (obesity) yang memproduksi leptin, serta gen db (diabetic) yang memproduksi reseptor leptin. Leptin dihasilkan oleh sel-sel lemak, lalu dikeluarkan ke dalam peredaran darah. Saat leptin mengikat reseptor leptin yang berada di otak, maka terjadi proses penghambatan pengeluaran neuropeptida Y, di mana neuropeptida Y berpengaruh meningkatkan nafsu makan. Karena itu, apabila tidak ada leptin, nafsu makan menjadi tidak terkontrol.

Sejumlah orang yang memiliki masalah obesitas telah diteliti, dan ternyata mengalami mutasi, baik pada gen yang memproduksi leptin atau gen reseptor leptin, sehingga berpengaruh pada kontrol makanan dalam tubuh.

Dengan teknik rekayasa genetika, kloning gen leptin dari manusia ke dalam bakteri Escherichia coli telah dilakukan, dengan tujuan memproduksi leptin dalam jumlah besar. Percobaan pada tikus yang mengalami mutasi pada gen penghasil leptin menunjukkan adanya penurunan berat badan saat diberikan terapi dengan leptin. Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena mutasi pada gen penghasil leptin. Jadi, tentu ada faktor lain yang ikut berperan.

Infeksi virus

Penemuan Dr Nikhil Dhurandhar dari University of Wisconsin, Madison, berhasil membuka misteri lain dari obesitas di luar faktor genetika, yang selama ini dituduh menjadi penyebab utama obesitas. Ternyata obesitas bisa merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus. Virus ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh sehingga disebut dengan virus lemak/fat virus.

Virus lemak pertama kali ditemukan pada ayam. Ayam yang terinfeksi virus lemak lebih gemuk dibandingkan dengan ayam yang tidak terinfeksi, hal lain, yang mengherankan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam normal. Keadaan yang sama juga terjadi pada manusia yang terinfeksi virus lemak.

Saat infeksi terjadi, virus lemak menyebar ke dalam darah dan sel-sel lemak, berikutnya virus memacu sel-sel lemak untuk mengambil kolesterol dan trigliserida dari dalam darah sehingga terjadi penumpukan pada sel-sel lemak. Itulah sebabnya pada orang yang terinfeksi, kadar kolesterol dalam darahnya menjadi lebih rendah dari orang normal. Penemuan ini telah dipublikasikan di International Journal of Obesity 2000.

Studi yang dilakukan terhadap ayam, tikus, dan monyet yang disuntik dengan virus lemak, menunjukkan peningkatan lemak dalam tubuh dengan kisaran 50-100 persen dibandingkan dengan hewan yang tidak disuntik virus walaupun diberikan porsi makanan yang sama.

Virus lemak merupakan kelompok Adenovirus-36. Sampai saat ini telah diketahui 50 jenis adenovirus manusia dan mengakibatkan penyakit-penyakit seperti radang otak, influenza, bahkan diare. Adenovirus biasanya dapat ditularkan lewat udara, kontak langsung, bahkan lewat air. Lalu apakah virus lemak (Adenovirus-36) dapat ditularkan dengan cara yang sama, hal ini masih memerlukan studi lebih lanjut untuk meneliti mekanisme infeksi dari virus lemak tersebut.

Survei terhadap sejumlah penderita obesitas di Amerika Serikat menunjukkan 30 persen di antaranya terinfeksi virus lemak, dan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya juga lebih rendah sebesar 35 mg, dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Penemuan ini merupakan suatu terobosan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, dan mungkin bisa mengubah banyak hal dalam mengatasi obesitas. Walaupun tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena infeksi virus, telah terbukti bahwa infeksi virus lemak berperan penting sebagai penyebab obesitas.

Dalam surat kabar Washington Post Agustus 2004, Asosiasi Obesitas Amerika melaporkan teknik laboratorium yang telah dikembangkan untuk mendeteksi virus lemak dari darah. Orang-orang yang terinfeksi virus lemak tidak menyadari adanya infeksi ini sampai dilakukan tes laboratorium, karena tidak adanya gejala klinis yang spesifik.

Mikro-organisme

Penemuan-penemuan terakhir tentang adanya kaitan antara mikro-organisme (bakteri, cendawan, virus) dan beberapa penyakit begitu mengherankan. Hal-hal yang semula dianggap tidak berkaitan dengan infeksi sekarang mulai terlihat berhubungan. Sebagai contoh: bakteri Chlamidia pneumoniae yang sebelumnya diketahui hanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan ternyata juga dapat mengakibatkan penyakit jantung, begitu pula dengan cytomegalovirus (CMV).

Contoh lain adalah sakit mag yang selama ini dikenal disebabkan oleh stres, makanan pedas, atau produksi asam lambung yang berlebih, ternyata diakibatkan oleh bakteri >f 3002f 3001<>

Begitu pula dengan autisme. Penelitian terakhir menunjukkan infeksi bakteri Clostridium tetani berperan penting mengakibatkan terjadinya autisme. Artinya, penyakit-penyakit yang selama ini diduga berhubungan dengan faktor fisiologi ataupun metabolisme tubuh ternyata diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme.

Kembali ke obesitas, apabila nanti telah terbukti sebagian besar obesitas diakibatkan infeksi virus lemak, maka tantangan ke depan yang perlu dilakukan adalah mendesain vaksin untuk mengatasi serangan virus lemak.


Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/04/humaniora/1302042.htm

 

Popular Posts