Minum minyak Goreng?


Ada hal yang cukup membuat saya tergelitik menyaksikan salah satu iklan minyak goreng di televisi. Pada iklan tersebut ibu Sysca (seorang ahli kuliner Indonesia) menanyakan kepada seorang pria (yang digambarkan sebagai seorang ahli) perihal minyak goreng yang baik. Sang pria tersebut menanyakan apakah ibu sysca sudah pernah mencoba untuk meminum minyak goreng untuk mengetahui apakah minyak goreng tersebut masih baik atau tidak. Dan Bu sysca dengan ekspresinya yang cukup lucu menurut saya, tampak kaget sekali mendengar saran sang ahli tersebut.
Hmm...meminum minyak goreng, suatu ide yang tidak pernah terlintas dalam benak saya. Sempat terlintas ide ini agak ekstrem. “Aman ga sih...?” seorang teman pernah nyeletuk hal tersebut kepada saya. Ya, saya jawab aman-aman saja. Toh kita jika makan gorengan juga prinsipnya sama dengan meminum minyak goreng. Jadi apa bedanya? Mungkin asal tidak meminumnya terlalu banyak saja.

Sebenarnya kenapa kita membutuhkan minyak goreng yang baik? Hingga (mungkin) bu sysca sang ahli kuliner tersebut mau meminum minyak goreng tersebut untuk mengetahuinya? Minyak goreng telah lama digunakan oleh manusia dalam mengolah bahan makanan. Tercatat 290 juta pon minyak goreng dan lemak setiap tahunnya digunakan dan dikonsumsi oleh manusia untuk menggoreng kentang goreng dan keripik kentang (saja!!!).

Minyak goreng berfungsi sebagai medium penghantar panas, menambah citarasa makanan, menambah nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan. Penggunaan minyak goreng yang kualitasnya sudah menurun dapat mengakibatkan kerusakan nilai gizi, merusak tekstur, aroma dan rasa dari bahan pangan yang digoreng. Sehingga tepatlah kiranya jika kita harus dapat memilih minyak goreng yang masih baik kualitasnya.

Proses penggorengan bahan makanan sebaiknya tidak dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Karena pada suhu tinggi akan terjadi reaksi hidrolisis molekul minyak goreng. Hal ini akan mengakibatkan turunnya titik asap dari minyak tersebut dan terbentuknya akrolein. Apabila telah terbentuk akrolein pada makanan yang digoreng, maka apabila makanan tersebut dimakan akan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan akibat dari akrolein tersebut. Sebaiknya proses penggorengan dilakukan pada suhu 177-221°C.

Jadi, sah-sah saja minum minyak goreng..asal minyak goreng yang masih baru dan jangan minyak goreng bekas menggoreng. Yah tapi jika penasaran ingin minum minyak goreng bekas menggoreng.....hati-hati saja dengan akrolein-nya dan siap-siap tenggorokan anda menjadi gatal.